Pengunjung




Kapal Pinisi seringkali dijumpai menjelajah Taman Nasional (TN) Komodo dan Raja Ampat. Desain tradisional dengan lantai kayu yang apik, interiornya terlihat modern elegan dan berkelas. Kapal Pinisi seolah menjadi kapal dambaan hampir setiap orang untuk menjajal pengalaman mengarungi laut yang tak terlupakan.

Lebih dari sekedar belayar di 2 tempat wisata itu, Kapal Pinisi sudah melegenda. Sejak abad 15 lalu, kapal yang berasal dari suku Bugis dan suku Makassar sudah digunakan oleh masyarakat Indonesia. Ketangguhan kapal ini tak perlu dipertanyakan lagi.

Kapal layar Pinisi diketahui pernah menaklukkan lima benua. Keganasan Samudera Pasifik, Vancouver di Kanada, Australia, Madagaskar hingga Jepang telah ditaklukkan oleh Kapal Pinisi. Kapal Pinisi lahir di daerah Bulukumba, Sulawesi Selatan. Salah satu tempat pembuatan kapal fenomenal ini ada di Tanjung Bira.

Sejak dahulu hingga kini, orang Bulukumba terkenal memiliki kemampuan membuat Kapal Pinisi. Dengan tangan ajaibnya, mereka membuat Kapal Pinisi secara manual. Tak seperti pembuatan kapal pada umumnya, kabarnya mereka membuat kapal ini tanpa menggunakan gambar rancang bangunan.

Proses pembuatannya pun tak bisa sembarangan. Mereka mempertahankan tradisi dalam pembuatan perahu tersebut. Dari proses memilih kayu sampai berlayar. Saat memilih kayu, mereka harus mengikuti hari baik yang ditetapkan yaitu pada hari ke-5 atau hari ke-7 di bulan tersebut.

Penentuan hari ke-5 dan ke-7 mempunyai arti tersendiri. Angka lima melambangkan rezeki yang telah diraih, sedangkan angka tujuh melambangkan hoki atau akan mendapatkan rezeki.

Kapal bersejarah ini menggunakan bahan baku kayu jenis Bitti yang dipadukan dengan kayu Ulin. Kapal dengan tinggi 2,5 meter dan panjang 15 meter ini mempunyai dua tiang layar utama dengan tujuh buah layar. Tiga layar dipasang di ujung depan, dua layar di bagian depan, dan dua layar lagi dipasang di bagian belakang perahu.

Tujuh layar di Kapal Pinisi ini memiliki makna yang mendalam yaitu bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh samudera di dunia. Kekuatan pelaut Indonesia disimbolkan oleh kapal ini.

Pembuatan sebuah perahu Pinisi memakan waktu tiga hingga enam bulan. Namun terkadang lebih lama, tergantung dari kesiapan bahan dan musim dan ukuran kapal. Biasanya untuk satu kapal Pinisi dikerjakan sekitar 5-10 orang. Masyarakat sekitar percaya jika perahu satu ini dikerjakan secara beramai-ramai atau banyak orang, akan mempengaruhi atau mengurangi nilai seni dari perahu itu.

Setiap detailnya dikerjakan secara teliti untuk menghasilkan kapal yang tahan lama digunakan berlayar. Tak heran, Perahu Pinisi berukuran besar dengan tenaga mesin diesel dijual dengan harga yang fantastis, bisa mencapai Rp2 miliar. Nantinya, pembeli bisa menentukan model perahu beserta interior di dalamnya.

Proses adat tak hanya sampai saat pemilihan kayu. Sebelum perahu Pinisi diluncurkan ke laut, mereka melaksanakan upacara Maccera Lopi dengan tujuan mensucikan perahu. Upacara ini ditandai dengan penyembelihan binatang.

Uniknya pembuatan Kapal Pinisi di Bulukumba ini juga telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia sejak Desember 2017 lalu.Pembuatan kapal Pinisi tak hanya di Tanjung Bira saja, namun juga dilakukan di tempat lain seperti di pantai Lemo-lemo dan di Tana Beru.

Kapal Pinisi tak hanya sekedar kapal pariwisata saja, namun kapal ini menjadi saksi sejarah, simbol kekuatan pelaut Indonesia dan juga sumber mencari nafkah warga Bulukumba.

Jam

Kalender

Calendar Widget by CalendarLabs

whatsapp
whatsapp